numpang iklan dsini

Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN KELAUTAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN KELAUTAN. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 Oktober 2011

TUGAS AKUSTIK DAN TELEMETRI KELAUTAN (setengah jd) :)


Pelayaran Sungai dan Danau/Prasarana Pelayaran Pedalaman

Prasarana pelayaran pedalaman biasanya berupa prasarana alam berupa sungai yang bisa dimanfaatkan untuk transportasi yang murah, tetapi terkadang ditemukan beberapa permasalahan agar dapat di optimalkan penggunaannya dengan pembuatan kanal, kolam pemindahan kapal ataupun harus dirawat dan di keruk secara reguler terutama pada sungai-sungai yang daerah aliran sungainya tidak terkendali sehingga erosi yang terjadi didaerah aliran sungai pada gilirannya mengakibatkan pendangkalan alur pelayaran.

Alur Pelayaran

Alur pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalaman, lebar, dan bebas hambatan pelayaran lainnya dianggap aman dan selamat untuk dilayari oleh kapal di laut, sungai atau danau. Alur pelayaran dicantumkan dalam peta Navigasi dan buku petunjuk-pelayaran serta diumumkan oleh instansi yang berwenang. Alur pelayaran digunakan untuk mengarahkan kapal dilintasan sungai atau danau.. Penguasa alur berkewajiban untuk melakukan perawatan terhadap alur pelayaran, perambuan dan pengendalian penggunaan alur.
Persyaratan perawatan harus menjamin: keselamatan berlayar, kelestarian lingkungan, tata ruang perairan dan tata pengairan untuk pekerjaan di sungai dan danau. Perencanaan Alur Pelayaran sangat penting untuk menjaga keselamatan pelayaran. Perencanaan alur pelayaran yang baik dapat mempercepat produktivitas bongkar muat di pelabuhan, lancarnya pergerakan kapal dan dan yang paling utama adalah faktor keselamatan kapal yang berlayar. Data-data yang diperlukan dan harus diketahui untuk mengetahui kondisi hidrografi alur pelayaran perairan daratan adalah:
  1. Kedalaman alur
  2. Pasang surut
  3. Lebar alur
  4. Perubahan geometri/alignment alur
  5. Ruang bebas diatas permukaan air
Potongan melintang alur pelayaran satu arah pada gambar atas dan dua arah pada gambar bawah, alur pelayaran harus dijaga kedalamannya dengan pengerukan secara periodik.

Kedalaman Alur Pelayaran

Kedalaman alur pelayaran
Untuk mendapatkan kondisi operasi yang ideal kedalaman air di alur pelayaran harus cukup besar untuk memungkinkan pelayaran pada muka air terendah (LWL) dengan kapal bermuatan maksimum atau kedalaman alur harus lebih besar dibandingkan dengan batas muatan kapal terbesar yang melewatinya, disamping itu kedalam alur Pelayaran harus memperhatikan jarak toleransi dari gerakan kapal yang disebabkan oleh gelombang, angin dan arus.
Kedalaman alur pelayaran secara umum dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
H = d + G + R + P + S + K
Dimana:
H = Kedalaman alur, m
d = draft kapal, m
G = gerak vertikal kapal karena gelombang dan squat, m
R = ruang kebebasan bersih untuk:
Kolam 7%-15% dari draft kapal
Alur 10%-15% dari draft kapal
P = Ketelitian pengukuran, m
S = Pengendapan sedimen antara dua pengerukan, m
K = toleransi pengerukan, m

Pasang-surut

Data pasang surut merupakan perubahan naik turunnya permukaan air atau fluktuasi muka air dalam periode tertentu. Untuk mengetahui pasang surut nya permukaan air diperlukan pencatatan yang dapat dilakukan secara manual, mekanik ataupun elektronik. Pencatatan dilakukan terutama pada tempat-tempat:
  1. Sungai atau terusan, pada setiap alur yang padat lalu lintasnya dan perioritas pada sungai atau terusan utama serta dermaga sungai dan tempat-tempat yang rawan terhadap hambatan alur pelayaran.
  2. Danau atau waduk.

Kecepatan Arus

Data kecepatan arus permukaan yang dapat membahayakan keselamatan pelayaran dalam batas kecepatan arus sampai dengan kedalaman 5 meter untuk alur pelayaran pedalaman. Pengukuran dilakukan dengan cara manual, mekanis ataupun elektronik. Tempat pengukuran diutamakan pada lokasi-lokasi yang rawan terhadap kecelakaan, diukur dibagian tengah, kiri dan kanan alur pelayaran. Pengukuran dilakukan sekali dalam sebulan atau sewaktu terjadi kenaikan muka air diatas normal, khususnya dimusim hujan ataupun hujan terjadi dibagian hulu sungai.

Lebar Alur

Lebar alur pelayaran diukur pada posisi air surut terendah (LWS). Lebar alur yang dianjurkan sekurang-kurangnya 24 m. Perubahan geometri/alignment alur adalah perubahan arah alur yang disebabkan :
  • sedinentasi/erosi atau banjir,
  • perubahan permukaan air karena berkurangnya debet air,
  • data perubahan alur yang diperlukan adalah data perubahan mengenai,
  • kedalaman alur,
  • lebar ulur,
  • lebar sungai pada kedalaman air pasang tertinggi/banjir,
  • kecepatan arus, serta
  • faktor-faktor penyebab perubahan.
Untuk keselamatan dan kelancaran pelayaran, data perubahan geomatri/alignment alur diprioritaskan pada alur yang perlu segera penanganan terutama yang padat lalu lintusnya.

Ruang bebas


Ruang bebas ke bangunan jembatan
Data perubahan ruang bebas diatas permukaan alur pelayaran perairan daratan yang diperlukan adalah :
  1. data ruang bebas antara muka air yang tertinggi dengan bangunan yang terendah yang menyilang alur,
  2. data mengenai adanya rencana pembangunan bangunan yang menyilang alur (jembatan, waduk, kabel listrik/jaringan pipa),
  3. data ruang bebas di atas permukaan air diwaktu pasang tertinggi, dan
  4. data penyebab perubahannya.

Peralatan survei

Peralatan hidrografi yang diperlukan adalah sebagai berikut :
  1. rantai duga, yaitu peralatan untuk menduga kedalaman alur pelayaran perairan daratan atau penyeberangan secara manual, yang berbentuk rantai logam berdiameter 0.2 Cm. panjang 10 meter dan diberi beban/pemberat 2.5 Kg.
  2. Echosounder, yaitu peralatan untuk mengukur kedalaman alur pelayaran secara mekanik atau elektronik dan standar teknis yang boleh dipergunakan untuk pemakaian peralatan ini harus mempunyai ketelitian yang tinggi, dengan angka penyimpangan tidak boleh lebih dari 0.05 %;
  3. current meter, yaitu peralatan untuk mengukur kecepatan arus/aliran air pada alur pelayaran perairan daratan atau penyeberangan secara mekanik atau elektronik yang mempunyai ketelitian yang tinggi dan dengan angka penyimpangan tidak boleh lebih dari 0,05 %;
  4. palem, yaitu peralatan untuk mengukur pasang surut air/fluktuasi air pada alur pelayaran perairan daratan secara manual yang berbentuk papan kayu/ fiber glass/logam anti karat yang tahun air, standard teknis peralatan untuk ukuran papan (0,20 x 0,05 x 6) meter, arah memanjang dengan pembagian setiap 5 Cm diberi warna berselang-seling (merah, kuning, merah dan seterusnya), sedangkan warna dasar dengan cat warna putih;
  5. water lavel recorder, yaitu peralatan untuk mengukur paeanu surut air pada alur pelayaran perairan daratan secara mekanik atau elektronik. dan standard teknis peralatan ini harus mempunyai ketelitian yang tinggi angka penyimpangannya tidak boleh melebihi dari 0.05 %;
  6. theodolite, yaitu alat untuk mengukur jarak dan perbedaan tinggi satu tempat terhadap tempat lainnya. dan standard teknis peralatan ini harus mempunyai ketelitian yang tinggi dengan angka penyimpangan tidak boleh besar dari 0,05%;
  7. titik reference, yaitu titik tetap di tepi alur pelayaran perairan daratan yanq dibuat sebagai patokan/pedoman terhadap kedudukan titik nol dari palem, dan titik reference ini tidak boleh terendam air dan mudah dilihat, terbuat dari logam dengan ukuran diameter 2.5 cm, panjang 40cm ditanamkan ke dalam balok beton cor sedalam 0,40 meter. ukuran balok cor ( 30 x 30 x 100) cm dicat warna kuning dan ditulis angka tertinggi terhadap LLWL.

Perawatan Alur

Untuk menjaga alur pelayaran tetap bisa digunakan sepanjang masa, alur harus dirawat secara reguler.

Hambatan pelayaran

Hambatan pelayaran terjadi karena berbagai faktor, diantaranya karena:
  1. Tonggak-tonggak yang tertanan di sungai
  2. dahan dan atau ranting-ranting serta sampah rumah tangga merupakan gangguan yang besar terhadap pelayaran, sebagaimana dialami oleh bus air yang digunakan di DKI Jakarta[1] yang harus sering-sering membersihkan sampah sari propeler. Di Indonesia sungai masih dianggap tempat mandi, cuci, dan kakus dan juga untuk membuang sampah.
  3. dahan dan atau ranting-ranting kayu yang menjorok ketengah sungai
  4. sisa-sisa penebangan kayu atau hutan yang terbawa oleh hutan yang terbawa arus sungai
  5. balok-balok kayu yang terlepas dari ikatannya
  6. kerangka kapal yang berada dialur pelayaran perairan daratan
  7. batu-batuan dan segala macam endapan atau pendangkalan sungai
  8. jenis tumbuh-tumbuhan/gulma yang tumbuh atau berada dialur pelayaran perairan daratan yang mengganggu khususnya di perairan tropis adalah tanaman seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), terutama pada perairan yang kecepatan arusnya rendah, tanaman semak dipinggir alur. Sungai Musi[2] telah terganggu cukup parah oleh Eceng gondok yang mengganggu pergerakan kapal, karena gulma ini mengganggu keseimbangan ekosystem, mesin kapal atau perahu motor sering mati mendadak gara-gara eceng gondok membelit propeler.
  9. pendangkalan sungai atau alur karena daerah aliran sungai kurang dikendalikan dengan baik dengan banyaknya penebangan liar, daerah pertanian yang pengendalian erosinya buruk, pertambangan, terutama tambang yang membuang sisa hasil tambang (tailing) ke sungai mengakibatkan pendangkalan yang sangat cepat. Untuk itu dibutuhkan pengerukan yang dilakukan secara reguler agar alur pelayaran bisa digunakan secara terus menerus seperti yang dilakukan di Ambang sungai Barito[3]. Kebutuhan dasar pelayaran pedalaman adalah pengendalian kedalaman alur pelayaran. Oleh karena itu pengerukan untuk menjaga kedalaman alur pelayaran perlu dilakukan. Memang biaya menjadi pertimbangan utama dalam melakukan pengerukan tetapi pada bisa dilakukan analisis ekonomi untuk menilai manfaat pengerukan terhadap transportasi perairan daratan. Disamping itu perlu ada gerakan nasional untuk menjaga agar erosi bisa dikendalikan dengan baik di daerah aliran sungai/hinterland sungai yang bersangkutan.
  10. bangunan atau benda-benda yang menyilang alur baik diatas maupun dibawah permukaan air.

Perawatan

Dalam rangka pencegahan terhadap hambatan pelayaran dilakukan program pemeliharaan alur. Tahapan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan alur meliputi kegiatan:
  • penelitian terhadap :
    • lokasi yang akan dibersihkan;
    • jenis dan sumber datangnya hambatan
    • kondisi hambatan (volume);
    • rencana lokasi pembuangan.
  • persiapan operasional terhadap kelengkapan dan tenaga
    • unit kapal pembersih alur;
    • petugas/personil;
    • rencana pelaksanaan pekerjaan;
    • alat-alat perlengkapan lainnya sehubungan dengan pekerjaan pemeliharaan alur.

Teknis Pelaksanaan perawatan

Pelaksanaan pemeliharaan alur pelayaran perairan daratan kegiatan pembersihan dan pengerukan alur pelayaran perairan daratan. Pelaksanaan pemeliharaan alur sebaiknya dilakukan pada saat musim kemarau. atau air surut, atau saat-saat yang diperlukan dan dilakukan mulai dari hilir ke hulu sungai. Pembuangan hasil pembèrsihan alur agar dibuang di suatu tempat pembuangan terdekat yang telah disediakan khusus untuk penampungan, dan tidak menimbulkan pancemaran lingkungan. Pendanaan terhadap Pekerjaan pemeliharaan alur, dlbiayai oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Teknis Pelaksanaan pemeliharaan alur dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  • terhadap tonggak-tonggak yang tertanam di sungai :
    • dengan cara mengikat kemudian diangkat dengan kekuatan darek (crane) atau
    • dengan cara mengikat kemudian ditarik dengan kekuatan tenaga penggerak kapal: atau
    • menggunakan 2 (dua) buah floater yang berisi air dan diikatkan pada bagian bawah tonggak tersebut. kemudian air da1am'Iloater tersebut
    • dipompa keluar sehingga tonggak tersebut terangkat;
    • apabila cara-cara tersebut tidak berhasil maka pada lokasi tersebut dipasang rambu sungai yang sesuai dengan peruntukannya.
  • terhadan dahan dan/atau ranting-ranting kayu yang hanyut dan sisa-sisa penebangan hutan, dapat dikumpulkan dengan Jala kemudian diangkat dan dimasukan kedalam tongkang untuk dibuang ke lokasi pembuangan:
  • terhadap dahan dan/atau ranting-ranting kayu yang menjarah ke sungai, dilaksanakan dengan menebang seluruh dahan dan/atau ranting-ranting kayu yang menjorok kesungai. kemudian dimasukkan kedalam tongkag untuk dibuang ke lokasi pembuangan:
  • terhadap balok-balok kayu yang terlepas dari ikatannya. maka balok-balok tersebut dikumpulkan, diteliti dan dicatat kemudian dibawa/digandeng ke tempat pos yang terdekat, selanjutnya dapat dikembalikan kepada pemilik dengan beberapa persyaratan/peringatan dan/atau sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku;
  • terhadap kerangka kapal, dapat dilaksanakan dangan cara mengikat kerangka kapal untuk kemudian diangkat dengan derek/crane, atau ditarik dengan kekuatan tenaga kapal dan bila tidak memungkinkan, maka di lokasi tersebut dilengkapi dengan rambu sesuai peruntukannya;
  • terhadap batu~batuan, dapat dilaksanakan terlebih dahulu dengan meneliti Jenis/kondisi dan lokasi batu-butuannya. bila dimungkinan diangkat dengan menggunakan derek/crane atau ditarik dengan kekuatan tenaga kapal, dan bila tidak mungkin dihancurkan dengan dinamit, dan bila tidak memungkinkan juga maka pada lokasi tersebut dipasang rambu sesuai dengan peruntukannya;
  • terhadap Jenis tumbuh-tumbuhan (rumput echornia):
    • dalam kelompok kecil, dapat dengan menggunakan Jala yang kemudian dimasukan ke dalam tongkang untuk dibuang ke lokasi pembuangan ;
    • dalam kelompok besar, untuk tidak menimbulkan kerusakan linxkun?an maka dapat mengnunakan zat kimia antara lain Kranaxon dengan cara disemprotkan sehingga akan terjadi pembusukan yang kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam tongkang untuk dibuang ke lokasi pembuangan;
  • terhadap pendangkalan/pengendapan :
    • meneliti terhadap pendangkalan
    • meneliti terhadap lokasi rawan erosi yang disertai dengan usaha-usaha untuk mengatasinya;
    • mengadakan pengerukan alur.
  • pemeliharaan alur pada bagian sungai yang berbelok-belok (meandering). dilakukan dengan merekayasa sungai (river trainning) dengan cara pembuatan krab-krab/tongak/graving pada tepi sungai di lokasi-lokasi terbentu.

Pencegahan

Dalam rangka pencegahan terhadap hambatan pelayaran perlu mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
  • mengadakan penelitian terhadap asal atau sumber datangnya hanbatan-hambatan tersebub dan cara pananggulangannya.
  • memberikan kesadaran dan tangguna jawab masyarakat setempat dan menempatkan / memasang papan pengumuman di daerah pemukiman. pabrik-pabrik. daerah penebangan hutan dan di tempat-tempat yang diperlukan melalui Pemerintah Daerah setempat tentang:
    • larangan membuang kotoran / limbah, sampah / sisa-sisa penebangan hutan ke sungai yang dapat membahayakan lalu lintas kapal,
    • meneliti dan mengikat kuat-kuat balok dan 'rakit yang berada dalam lingkup tanggung jawabnya.
  • menempatkan pos-pos pengawasan alur di tepi sungai setiap jarak maksimum 15 km, lengkap dengan petugas pegawai yang memantau alur pelayaran secara rutin,
  • mempersiapkan dan menugaskan petugas / regu-regu khusus pembersihan alur dengan tugas mengadakan pengawasan / pangamatan alur dan pelaksaannya secara rutin.
  • memasang tanda/rambu petunjuk pada lokasi rawan erosi tentang batas kecepatan maksimum bagi pemakai alur:
  • mewajibkan para pemegang/pemilik HPH untuk mangadakan pemugaran sepanjang tepi sungai pada wilayah kerjanya dan/atau penawaran pada daerah-daerah yang diduga sumber datangnya pengotoran sungai dengan ukuran dan konstruksi yang disesuaikan dengan fungsinya untuk menahan datang/hanyutnya segala jenis hambatan/kotoran dari daratan pada saat terbawa air suruh;
  • memberikan rekomendasi terhadap instansi yang akan melaksanakan segala bentuk bangunan/bendu-benda yang akan dibangun menyilang alur pelayaran baik di atas maupun di bawah permukaan air sesuai dengan kondisi dan keadaan penggunaan alur setempat;
  • menbangun/memasang konstruksi turap pada pinggir tebing di tikungan sungai dan atau lokasi rawan erosi.

Terusan

Peta Anjir yang menghubungkan beberapa sungai di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan Untuk memperpendek jarak antara daerah satu dan lainnya dibangun terusan atau kanal yang dalam bahasa setempat disebut antasan atau anjir. Antasan dibangun terutama untuk memperpendek jarak dengan cara menghubungkan dua saluran air, sungai atau danau yang sudah ada sebelumnya.




Berbeda dengan alur pelayaran alam, terusan atau yang dikenal sebagai canal merupakan alur pelayaran buatan yang digunakan untuk mempercepat pelayaran kapal. Tanpa melewati terusan, kapal harus berlayar mengelilingi daratan yang jauh jaraknya. Terusan dapat berupa sungai yang dimodifikasi atau kanal khusus yang dibangun dari awal untuk keperluan tersebut.
Syarat suatu kanal untuk dapat dipakai sebagai terusan adalah kanal tersebut harus memiliki kedalaman yang cukup dengan jenis kapal yang melewati kanal tersebut, minimal 5 m (16,4 kaki). Tujuan dari terusan adalah:
  1. Sebagai jalan singkat dan menghindari rute pelayaran yang lebih jauh.
  2. Sebagai jalan antara dua buah laut atau danau yang tertutup oleh daratan.
  3. Sebagai sarana akses ke lautan bagi kota yang berada jauh di daratan.
  4. Sebagai penghubung dua buah sungai yang menghubungkan dua sungai di Kalimantan, seperti Anjir Kalampan yang menhubungkan Sungai Kahayan dengan Sungai Kapuas, Anjir Serampat yang menghubungkan Sungai Kapuas dan Sungai Barito.

Kolam Pemindahan Kapal


Kapal yang sedang melewati pintu/lock berlayar ke tempat yang lebih tinggi. Diawali dengan membuka pintu yang pertama, kemudian pada gambar ditengah kapal masuk ke lock, pintu pertama ditutup dan pintu kedua dibuka baru setelah itu kapal bisa berlayar melanjutkan perjalanan.

Kapal yang sedang melewati pintu/lock berlayar ke tempat yang lebih rendah.
Kolam pemindahan kapal atau pintu ataupun dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan nama Lock merupakan perangkat untuk mengendalikan kedalaman alur pelayaran serta merupakan perangkat untuk mengangkat kapal menuju lintasan yang lebih tinggi ataupun lebih rendah dengan menggunakan prinsip hidrolika.

Cara kerja Kolam Pemindahan kapal

Kapal untuk menuju ketempat yang lebih tinggi masuk keruang pertama pintu ditutup, kemudian air dari ruang kedua dialirkan sampai dengan ketinggian tertentu dan selanjutnya kapal berlayar ke ruang kedua dan seterusnya. Pada gambar berikut ditunjukkan proses penggunaan pintu/lock dari bagian sungai atau kanal yang lebih rendah menuju ketempat yang lebih tinggi melalui suatu lock dan sebaliknya turun menuju tempat yang lebih rendah. Bila ketinggian yang akan dicapai sangat tinggi maka jumlah lock bisa merupan rangkaian beberapa buah lock. Untuk menuju alur yang letaknya lebih rendah dapat dilihat pada gambar berikutnya.
Pintu digunakan di sungai yang dan terusan/canal seperti salah satu yang sangat populer yaitu terusan Suez di Timur Tengah dan terusan Panama di Panama.

Ukuran pintu/lock

Ukuran lock sangat tergantung kepada kapal yang akan menggunakan lintasan yang bersangkutan tentu setelah melalui analisis ekonomi terhadap ukuran, waktu transit di lock, ukuran kapal atau tongkang yang menggunakan lock, jenis lock yang digunakan, tunggal atau beberapa. Pada tabel berikut ditunjukkan ukuran lock yang biasa digunakan:
Tabel 4.1. Dimensi pintu yang bisa digunakan
Lebar, ft
Lebar, m
Panjang, ft
Panjang, m
84
25,6
600
182,7
84
25,6
800
243,6
84
25,6
1200
365,4
110
33,5
600
182,7
110
33,5
800
243,6
110
33,5
1200
365,4


Pandangan atas dan potongan memanjang pintu pemindahan kapal/lock
Di Eropah banyak digunakan pintu/lock dengan ukuran panjang 15 m – 21 m saja dan lebar hanya 2,1 m saja yang digunakan untuk kapal penumpang, barang ukuran kecil.
Gambar berikut menunjukkan profil dan pandangan atas Lock dimana bisa dilihat bagian-bagian penting dari suatu pintu/lock, yaitu pintu lock atas maupun bawah yang harus kedap air (kebocoran rendah), dinding pengarah, saluran air untuk mengisi ataupun mengosongkan ruang lock (chamber).

Ukuran kapal/tongkang

Ukuran tongkang yang biasanya digunakan diperairan pedalaman yang biasa digunakan untuk melewati sungai, kanal, kolam pemindahan kapal serta yang bisa masuk juga ke perairan laut, dapat dilihat dalam gambar berikut:

Ukuran tongkang yang bisa digunakan dalam pelayaran pedalaman

Jenis tongkang yang digunakan

Jenis tongkang yang diguanakan dapat dikelompokkan atas:
  1. Tongkang yang ditarik kapal tunda
  2. Tongkang Yang didorong

Jumlah tongkang

Jumlah tongkang yang ditarik biasanya hanya 1 tongkang, tetapi tongkang yang didorong dapat sekaligus menarik beberapa buah tongkang sekaligus. Rangkaian tongkang bisa disusun atas dua, empat, enam tongkang sekaligus, untuk itu pertimbangan keekonomian kecepatan bongkar muat serta kedalaman dan lebar alur pelayaran menjadi menjadi perhatian.

Gangguan alur pelayaran pedalaman

Alur pelayaran pedalaman perlu dirawat agar arus lalu lintas kapal tidak dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya:

Gulma

Hal yang menggangu di perairan tropis adalah tanaman seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), terutama pada perairan yang kecepatan arusnya rendah, tanaman semak dipinggir alur. Sungai Musi telah terganggu cukup parah oleh Eceng gondok yang mengganggu pergerakan kapal, karena gulma ini mengganggu keseimbangan ekosystem, mesin kapal atau perahu motor sering mati mendadak gara-gara eceng gondok membelit propeler, sehingga pada gilirannya mengurangi kecepatan serta meningkatkan konsumsi bahan bakar.

Sampah

Seperti halnya gulma, sampah rumah tangga, balok kayu, ranting merupakan gangguan yang besar terhadap pelayaran, sebagaimana dialami oleh bus air yang digunakan di DKI Jakarta yang harus sering-sering membersihkan sampah sari propeler. Di Indonesia sungai masih dianggap tempat mandi, cuci, dan kakus dan juga untuk membuang sampah, permasalahan ini diperparah oleh industri yang membuang limbahnya ke sungai.

Lumpur

Karena daerah aliran sungai kurang dikendalikan dengan baik dengan banyaknya penebangan liar, daerah pertanian yang pengendalian erosinya buruk, pertambangan, terutama tambang yang membuang sisa hasil tambang (tailing) ke sungai mengakibatkan pendangkalan yang sangat cepat. Untuk itu dibutuhkan pengerukan yang dilakukan secara reguler agar alur pelayaran bisa digunakan secara terus menerus seperti yang dilakukan di Ambang sungai Barito. Kebutuhan dasar pelayaran pedalaman adalah pengendalian kedalaman alur pelayaran. Oleh karena itu pengerukan untuk menjaga kedalaman alur pelayaran perlu dilakukan. Memang biaya menjadi pertimbangan utama dalam melakukan pengerukan tetapi pada bisa dilakukan analisis ekonomi untuk menilai manfaat pengerukan terhadap transportasi perairan daratan. Disamping itu perlu ada gerakan nasional untuk menjaga agar erosi bisa dikendalikan dengan baik di daerah aliran sungai/hinterland sungai yang bersangkutan.

Pengerukan Alur

Untuk menjaga alur agar tetap dapat dilayari terutama pada alur pelayaran yang membawa material hasil erosi yang tinggi, perlu dilakukan perawatan alur dengan melakukan pengerukan secara reguler.


Jenis-jenis pengerukan

Capital dredging

Pengerukan ini dilakukan untuk membuat: kolam pelabuhan baru, termasuk alur pelayarannya. Melebarkan dan atau menambah kedalaman kolam pelabuhan / terusan / sungai yang sudah ada.
Alat yang biasa digunakan untuk melakukan pengerukan adalah kapal keruk hisap. Pengerukan ini dilakukan untuk hal-hal berikut:
  1. Navigasi
  2. Infrastruktur

Pengerukan perawatan

Pengerukan perawatan atau disebut juga Maintenance Dredging oleh Trailing Suction Hopper Dredger Dilakukan untuk memelihara dan melindungi fungsi-fungsi dari suatu subyek berkenaan dengan:
  1. aspek-aspek pelayaran / nautical aspects
  2. perlindungan tanah / pantai
  3. nilai-nilai lingkungan
Dalam hal ini aspek-aspek pelayaran menyangkut alur pelayaran, terkait dengan fungsi ekonomi misalnya (bila pelabuhan dangkal maka kapal tidak dapat merapat), serta faktor-faktor alam lainnya seperti sedimentasi dll. Jenis kapal yang sering digunakan adalah trailing suction hopper dredge.

Environmental dredging

Pengerukan dengan alasan untuk memperbaiki lingkungan dari suatu lokasi perairan. Termasuk dalam hal ini adalah memindahkan tanah atau sedimen yang terkena polusi.

Kapal keruk

Untuk melakukan pengerukan digunakan beberapa cara, biasanya menggunakan kapal keruk. Kapal keruk merupakan kapal yang memiliki peralatan khusus untuk melakukan pengerukan. Kapal ini dibuat untuk memenuhi menggerus dasar alur, baik untuk kolam pelabuhan maupun alur pelayaran. Ada beberapa jenis kapal keruk yaitu kapal keruk penghisap, kapal kerukbak lumpur dan kapal keruk jet air.

Kapal Keruk Hisap

Kapal keruk penghisap beroperasi dengan menghisap material melalui pipa panjang seperti vacuum cleaner, digunakan untuk mengeruk dasar alur pelayaran yang tidak keras atau liat seperti pasir dan lumpur. Setelah cairan bercampur lumpur dihisap, material endapan kemudian dipisahkan dari cairan dengan menggunakan sentrifuse.

Kapal keruk timba

Kapal Keruk Timba

Kapal keruk timba atau bak lumpur adalah kapal keruk yang dilengkapi dengan bak lumpur yang disusun sedemikian dan digerakkan untuk mengeruk dasar perairan, hasil kerukan kemudian ditampung di tongkang untuk kemudian dibuang ditempat pembuangan lumpur. Pengerukan kanal ataupun sungai dapat dilakukan dari pinggir kanal atau sungai seperti ditunjukkan dalam gambar.

Kapal Keruk Jet Air

Kapal keruk jet air adalah kapal keruk yang menggunakan kekuatan air untuk menggerus dasar perairan. Permasalahan yang timbul adalah material kerukan dapat kembali mendangkalkan alur pelayaran.

Kapal Keruk Backhoe

Kapal keruk backhoe merupakan kapal keruk yang mengeruk perairan dengan menggunakan backhoe. Dalam bentuk yang sederhana bachhoe bisa ditempatkan diatas tongkang atau ponton. Kapal keruk jenis ini bisanya digunakan untuk mengelakukan pekerjaan keruk yang tidak terlalu besar.

Referensi

  1. Waterway, Angkutan Air Masa Depan, Kamis, 2008 Juni 12 Oleh wongbanyumas,
  2. Kompas,Sabtu, 22 April 2006, Eceng Gondok Ganggu Alur Sungai Musi,
  3. Alur Barito Bisa Dilayari 24 Jam,
  4. Endang Susilowati, Peranan Jaringan Sungai Sebagai Jalur Perdagangan Di Kalimantan Selatan Pada Pertengahan Kedua Abad XIX
  5. US Army Corps of Engineers, Planning and Design of Navigation Locks, Springfield, 1995
  6. Craft and Lock Dimensions
  7. US Army Corps of Engineers, Hydraulic Design of Navigation Locks, Springfield, 1995
  8. Sungai-sungai yang Kalah
  9. Waterway, Angkutan Air Masa Depan, Kamis, 2008 Juni 12 Oleh wongbanyumas,
  10. Limbah Sawit Dibuang ke Sungai
  11. Alur Barito Bisa Dilayari 24 Jam,


Rabu, 05 Oktober 2011

REVISI BIOPER PART 3, SORI BNYK SLH YA BANG,

ini tgs nya bang toyib, bioper part 2

ini link dr jurnal nya bang :
http://www.ziddu.com/download/16656949/bio342_textbook_prakata.pdf.html

yg ini rangkumannya bang
http://www.ziddu.com/download/16657029/goks.doc.html
semoga bermanfaat, thx before. :)
Selasa, 04 Oktober 2011

INI BANG TOYIB TGS BIOPER NYA PART2


AWAL DAUR HIDUP IKAN


Perkembangan awal daur hidup ikan merupakan suatu hal yang menarik karena berhubungan dengan stabilitas populasi ikan tersebut dalam suatu perairan. Untuk mempelajari kemampuan hidup suatu spesies ikan dan mengurangi tingkat mortalitas yang terjadi terutama pada awal perkembangan hidup ikan khusunya untuk pembudidayaan perlu adanya pengertian mengenai jenis-jenis telur ikan tersebut dan daur hidup ikan mulai dari awal fertilisasi hingga terdeferensiasi untuk menjadi ikan muda.

Macam-macam Telur Ikan dan Bagian-bagiannya
Telur dari hewan yang bertulang belakang, secara umum dapat dibedakan berdasarkan kandungan kuning telur dalam sitoplasmnyaa yaitu :
a) Telur homolecithal (isolecithal). Golongan telur ini hanya terdapat pada mamalia. Jumlah kuning telurnya hanya sedikit terutama dalam bentuk butir-bitir lemak dan kuning telur yang terbesar di dalam sitoplama.
b) Telur telolecithal. Golongan telur ini terdapat sejumlah kuning telur yang berkumpul pada salah satu kutubnya. Ikan tergolong hewan yang mempunyai jenis telur tersebut. Protoplasma dari telur Teleostei dan Elasmobranchia akan mengambil bagian pada beberapa pembelahan pertama. Kuning telur tidak turut dalam proses-proses pembelahan, sedangkan perkembangan embrionya terbatas pada sitoplasma yang terdapat pada kutub anima.

Telur ikan ovipar yang belum dibuahi (Gambar 4.1), bagian luarnya dilapisi oleh selaput yang dinamakan selaput kapsul atau chorion. Pada chorion ini terdapat sebuah mikropil yaitu suatu lubang kecil tempat masuknya sperma ke dalam telur pada waktu terjadi pembuahan. Di bawah chorion terdapat selaput yang kedua dinamakan selaput vitelline. Bagian telur yang terdapat sitoplasma biasanya berkumpul di sebelah telur bagian atas yang dinamakan kutub anima, sedangkan bagian kutub yang berlawanan terdapat banyak kuning telur yang dinamakan kutub vegetatif. Kuning telur yang ada di bagian tengah keadaannya lebih pekat dari pada kuning telur yang ada pada bagian pinggir karena adanya sitoplasma yang banyak terdapat di sekeliling inti telur.

Gambar 4.1 Bagan telur sebelum dibuahi


Gambar 4.2 Bagan telur setelah keluar dari tubuh induk, dengan ruang perivitelline

Telur yang baru saja keluar dari tubuh induk dan bersentuhan dengan air akan terjadi perubahan yaitu selaput chorion akan terlepas dengan selaput vitelline dan membentuk ruang yang ini dinamakan ruang perivitelline (Gambar 4.2). Adanya ruang perivitelline ini , maka telur dapat
bergerak lebih bebas selama dalam perkembangannya, selain itu dapat juga mereduksi pengaruh
gelombang terhadap posisi embrio yang sedang berkembang. Air masuk ke dalam telur yang
disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan osmose dan imbibisi protein yang terdapat pada
permukaan kuning telur. Selaput vitelline merupakan penghalang masuknya air jangan sampai
merembes ke dalam telur. ii) pengerasan selaput chorion. Waktu yang diperlukan untuk pengerasan
selaput chorion tidak sama bergantung pada ion kalsium yang terdapat dalam air.




Tidak semua telur ikan mempunyai bentuk yang sama, umumnya suatu spesies yang berada dalam satugenus mempunyai kemiripan atau mempunyai perbedaan yang kecil. Di perairan didapatkan bermacam telur dan larva ikan bercampur aduk dalam tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan pola pemijahan ikan-ikan di Indonesia masih belum diketahui, sehingga ada kemungkinan didapatkan ikanikan yang memijah dalam sepanjang tahun.

Gambar 4.3 Jenis-jenis telur ikan pelagis di Laut Jawa dan Selat Malaka (Sumber:Delsman, 1929 dalam Effendie, 1979)
Keterangan :
1. Chirocentrus dorab 12. Dorosoma chacunda
2. Tidak dikenal 13. Chanos chanos
3. Clupea fimbriata 14. Pellona sp.
4. Stelophorus heterolobus 15. Cybium maculatum
5. Engraulis kammalensis 16. Echeneis naucrates
6. Stolephorus indicus 17. Saurida tumbil
7. Trichiurus sp. 18. Harpodon nehereus
8. Muraena sp. 19. Tetradon sp.
9. Decapterus (Caranx) kurra 20. Tidak dikenal
10. Hemirhampus sp. 21. Fistularia serrata
11. Caranx macrosoma

beberapa sistem lain dalam pengelompokan telur berdasarkan sifat-sifat yang lain yaitu :
a). Sistem pengelompokan telur ikan berdasarkan jumlah kuning telurnya :
  • Oligolecithal : telur dengan kuning telur sangat sedikit jumlahnya, contoh ikan Amphioxus
  • Telolecithal : telur dengan kuning telur lebih banyak dari Oligolecithal. Umumnya jenis telur ini banyak dijumpai di daerah empat musim, contoh ikan Sturgeon
  • Makrolecithal : telur dengan kuning telur relatif banyak dan keping sitoplasma di bagian
kutub animanya. Telur semacam ini banyak terdapat pada kebanyakan ikan.
b). Sistem yang berdasarkan jumlah kuning telur namun dikelaskan lebih lanjut berdasarkan berat
jenisnya :
  • Non bouyant : telur yang tenggelam ke dasar saat dikeluarkan dari induknya. Golongan telur
ini menyesuaikan dengan tidak ada cahaya matahari, kadang-kadang oleh induknya telur
diletakkan atau ditimbun oleh batu-batuan atau kerikil, contoh telur ikan trout dan ikan salmon.
  • Semi bouyant : telur tenggelam ke dasar perlahan-lahan, mudah tersangkut dan umumnya
telur berukuran kecil, contoh telur ikan Coregonus.
  • Terapung : telur dilengkapi dengan butir minyak yang besar sehingga dapat terapung.Umumnya terdapat pada ikan-ikan yang hidup di laut.
c). Telur dikelompokkan berdasarkan kualitas kulit luarnya
  • Non adhesive : telur sedikit adhesive pada waktu pengerasan cangkangnya, namun
kemudian sesudah itu telur sama sekali tidak menempel pada apapun juga, contoh telur ikan
salmon.
  • Adhesive : setelah proses pengerasan cangkang, telur bersifat lengket sehingga akan mudah
menempel pada daun, akar tanaman, sampah, dan sebagainya, contoh telur ikan mas (Cyprinus carpio).
  • Bertangkai : telur ini merupakan keragaman dari telur adhesive, terdapat suatu bentuk
tangkai kecil untuk menempelkan telur pada substrat.
  • Telur berenang : terdapat filamen yang panjang untuk menempel pada substrat atau filamen
tersebut untuk membantu telur terapung sehingga sampai ke tempat yang dapat ditempelinya, contoh telur ikan hiu (Scylliorhinus sp.).
  • Gumpalan lendir : telur-telur diletakkan pada rangkaian lendir atau gumpalan lendir, contoh
telur ikan lele (Clarias).

Pengelompokan telur berdasarkan lingkungan yang diberikan induknya;
a). telur tersebar, tidak ada tambahan sesuatu dari induknya untuk keberhasilan hidup telur tersebut.
  • Telur terapung, umumya terdapat pada ikan laut seperti ikan tenggiri.
  • Telur tenggelam ke dasar, banyak terdapat pada ikan air tawar.
  • Telur adhesive, menempel pada substrat, batu, tumbuhan dan lain-lain seperti pada ikan mas.
b). telur tersebar atau diletakkan satu persatu tetapi dengan beberapa syarat perlindungan namun
tanpa perhatian induk;
  • telur dalam benang lendir.
  • telur dengan cangkang yang berubah seperti tangkai yang adhesive.
  • telur dibungkus dalam kapsul pelindung yang dikeluarkan oleh uterus
  • bila telur menyentuh air, cangkangnya akan pecah dan menggulung menjadi organ yang
adhesive untuk menempel pada substrat
c). telur diletakkan pada gumpalan lendir tetapi tidak membentuk sarang. Telur tersebut dijaga oleh
ikan jantan;
  • telur diletakkan di celah batu karang di atas permukaan air terendah pasang naik, sehingga
akan terkena udara pada waktu pasang turun. Ikan jantan berpuasa menunggu telur selama
pengeraman dari gangguan predator
  • telur tergulung pada massa yang bulat dan induk menggulung dengan tubuhnya
d). Telur diletakkan dalam sarang pada kerikil, pasir atau lumpur di dasar perairan;
  • pada kerikil dalam air yang mengalir. Telur ditutupi dan induk meninggalkan sarang
  • pada pasir atau kerikil di dasar perairan yang digali oleh induk
  • sarang yang berbentuk cangkir di dasar perairan, dan telur tidak ditutupi. Jantan biasanya
menjaga telur dan mengipasinya, telur biasanya adhesive.
  • Sarang terpendam di dalam dasar lumpur atau detritus.
e). Sarang telur diletakkan di bawah atau di atas objek. Penjagaan telur biasanya dilakukan oleh
ikan jantan.
f). Sarang dibuat dari bahan tanaman yang tersusun seperti sarang burung yang dijalin oleh suatu zat
yang dikeluarkan oleh ginjal. Ikan jantan bertugas menjaga sarang.
g). Sarang terbuat dari gelembung atau busa yang disusun oleh ikan jantan dan sarang itu
dikeraskan oleh lendir yang dikeluarkan oleh ikan jantan pula. Telur diletakkan dalam
gelembung ini.
h). Penyesuaian khusus untuk menjaga telur yang dilakukan oleh induknya;
  • telur dalam mulut, contoh ikan Famili Cichlidae (mujair)
  • sebagian kulit perut induk membengkak untuk meletakkan telur hingga telur menetas, contoh ikan lele di Brazil
  • telur dalam bentuk gumpalan dihubungkan oleh semacam benang dengan bagian lengkungan
    tulang di kepala ikan jantan sehingga kedua gumpalan tersebut menggantung di kedua pinggir kepala
  • telur diletakkan dalam kantung yang terdapat di bagian perut induk, contoh ikan kuda laut
(Syngnatidae)
i). pemijahan yang bekerja sama dengan binatang lain, contoh ikan bitterling yang memerlukan
moluska untuk meletakkan telurnya.
Pembuahan
Proses pembuahan pada ikan terjadi apabila spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang mikropil yang terdapat pada chorion. Tiap spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur, tetapi karena ruang tempat terjadinya pembuahan pada ikan ovipar sangat besar, maka kesempatan spermatozoa itu untuk bertemu dengan telur sebenarnya sangat kecil. Oleh karena itu, spermatozoa yang dikeluarkan jumlahnya sangat besar dibandingkan dengan jumlah telur yang akan dibuahi, sehingga dalam kondisi yang optimum spermatozoa ikan yang baru dikeluarkan dari tubuh mempunyai kekuatan untuk bergerak dalam air selama 1 – 2 menit.
Berdasarkan kepada penelitian yang dilakukan oleh Hartman dan juga oleh Motalenti (Hoar, 1957 dalam Effendie, 1997) telur dan sperma yang baru dikeluarkan dari tubuh induk, mengeluarkan zat kimia yang berguna dalam proses pembuahan. Zat yang dikeluarkan oleh telur dan sperma tersebut dinamakan Gamone.
Lapisan telur yang sudah berada dalam air adalah keras dan tidak dapat ditembus oleh spermatozoa kecuali melalui mikropil yang bentuknya seperti corong. Lubang corong yang besar terletak di bagian luar dan lubang yang kecil di bagian dalam. Ketika spermatozoa masuk ke dalam lubang corong, itu merupakan sumbat bagi yang lainnya dan setelah kepala spermatozoa itu masuk, bagian ekornya terlepas. Dengan demikian pembuahan pada ikan umumnya monosperma. Apabila terjadi pembuahan polysperma hanya satu spermatozoa saja yang melebur bersatu dengan inti telur.sedangkan yang lainnya dihisap oleh telur sebagai bahan makanannya. Sesaat setelah terjadi pembuahan, isi telur agak sedikit mengkerut karena pecahnya rongga alveoli yang terdapat di dalam telur, sehingga menyebabkan rongga perivitelline lebih membesar sehingga telur yang telah dibuahi dapat mengadakan pergerakan rotasi selama dalam perkembangannya sampai menetas.

Perkembangan telur ikan
Setelah terjadi pembuahan, telur akan mengalami masa pengeraman oleh induknya hingga menetas menjadi larva ikan. Lama masa pengeraman ikan tidak sama bergantung kepada spesies ikannya dan beberapa faktor luar. Faktor luar yang terutama mempengaruhi pengeraman ialah suhu perairan, cahaya, zat yang terlarut dalam air, dan ph.





Kondisi yang optimum.
Pada waktu akan terjadi penetasan, embrio sering mengubah posisinya karena kekurangan ruang di dalam cangkang. Dengan pergerakan-pergerakan tersebut bagian cangkang telur yang telah lembik akan pecah. Umumnya, dua atau tiga kali pembetulan posisinya embrio mengatur dirinya lagi.
Pada bagian cangkang yang pecah ujung ekor embrio dikeluarkan terlebih dahulu sambil digerakkan. Kepalanya dikeluarkan terakhir karena ukurannya lebih besar dibandingkan dengan bagian tubuh yang lainnya, namun kadangkala didapatkan kepala yang keluar lebih dulu. Anak ikan yang baru ditetaskan tersebut dinamakan larva, dengan tubuhnya yang belum sempurna baik organ luar maupun organ dalamnya. Sehubungan dengan perkembangan larva ini, terdapat dua tahap perkembangan yaitu prolarva dan postlarva.
Prolarva biasanya masih mempunyai kantung kuning telur, tubuhnya transparan dengan beberapa butir pigmen yang fungsinya belum diketahui. Sirip dada dan ekor sudah ada tetapi belum sempurna bentuknya dan kebanyakan prolarva yang baru keluar dari cangkang telur ini tidak punya sirip perut yang nyata melainkan hanya bentuk tonjolan saja. Mulut dan rahang belum berkembang dan ususnya masih merupakan tabung yang lurus.
Sistem pernafasan dan peredaran darah tidak sempurna. Makanannya didapatkan dari sisa kuning telur yang belum habis dihisap. Adakalanya larva ikan yang baru ditetaskan letaknya dalam keadaan terbalik karena kuning telurnya masih mengandung minyak. Apabila kuning telur tersebut telah habis dihisap, larva akan kembali seperti biasa.
Larva ikan yang baru ditetaskan pergerakannya hanya sewaktu-waktu saja dengan menggerakkan bagian ekornya ke kiri dan kekanan dengan banyak diselingi oleh istirahat karena tidak dapat mempertahankan keseimbangan posisi tegak. Postlarva merupakan masa larva dimana kantung kuning telur mulai hilang sampai terbentuknya organ-organ baru atau selesainya taraf penyempurnaan organ-organ yang telah ada sehingga pada masa akhir dari postlarva tersebut secara morfologi sudah mempunyai bentuk hampir seperti induknya. Pada tahap postlarva ini, larva tersebut sudah terdapat pigmentasi yang banyk pada bagian tubuh tertentu. Perkembangan dari telur hingga larva dapat dilihat pada gambar berikut :
(a) (b) (c) (d) (e)


(f) (g) (h) (i) (j)
(k)
Gambar 4.5. Perkembangan dari telur hingga larva. a. 12 jam setelah fertilisasi (akhir morula), b. 25 jam terakhir (gastrula), c. 27 jam (kuning telur 7/10 dikelilingi blastoderm), d. 30 jam, e. 37 jam, f. 41 jam, g.54 jam, h. 64 jam, i. 83 jam, j. Larva setelah menetas, k. Juvenil

INI BANG TOYIB TGS BIOPER NYA PART2


Jumat, 30 September 2011

TUGAS BIOPER (SUDAH DIRANGKUM MAS TOYIB) 1


AWAL DAUR HIDUP IKAN (sdh di rangkum)



Perhatian terhadap proses-proses yang terdapat dalam perkembangan awal hidup ikan merupakan hal yang menarik karena berhubungan dengan stabilitas populasi ikan tersebut dalam suatu perairan. Mortalitas pada awal perkembangan hidup ikan umumnya sangat besar dimana fluktuasi mortalitas mempunyai andil yang besar dalam menentukan variasi produksi pada tiap­tiap tahunnya.


Telur ikan dengan bagian-bagiannya.
Telur hewan bertulang belakang, berdasarkan kepada jumlah deutoplasma (kuning telur, dan sebagainya) yang terdapat di dalam cytoplasma, dapat dibagi dua (Nelsen, 1953):

a. Telur homolecithal (isolecithal).
Golongan telur ini hanya terdapat pada mammalia. Jumlan deutoplasma hanya sedikit terutama dalam bentuk butir-butir lemak dan kuning telur yang terbesar di dalam cytoplasma.

b. Telur telolecithal.
Dalam telur dari golongan ini terdapat sejumlah kuning telur yang relatif banyak dan berkumpul pada salah satu kutubnya. Telur ini dinamakan mesolecithal, Romer (1955)

Apabila telur baru keluar dari tubuh induk dan bersentuhan dengan air ada dua hal yang akan terjadi. Pertama selaput chorion akan terlepas dengan selaput vitelline dan membentuk ruang. Ruang ini dinamakan ruang perivitelline. Masuknya air ke dalam telur disebabkan oleh perbedaan tekanan osmose dan imbibisi protein yang terdapat pada permukaan kuning telur. Selaput vitelline merupakan penghalang masuknya air jangan sampai merembes ke dalam telur.

Proses yang kedua ialah pengerasan selaput chorion. Waktu yang diperlukan untuk pengerasan selaput chorion tidak sama bergantung pada ion calsium yang terdapat dalam air. Menurut Hoar (1957) telur yang ditetaskan dalam air yang mengandung calsium chlorida 0,0001 M, selaput chorionnya akan lebih keras dari pada telur yang ditetaskan di air suling. Pengerasan chorion ini akan mencegah terjadinya pembuahan polyspermi. Dengan adanya ruang perivitelline di bawah chorion yang mengeras, maka telur dapat bergerak lebih bebas selama dalam perkembangannya. Pengaruh gelombang terhadap posisi embryo yang sedang berkembang sangat tereduksi karena adanya ruang perivitelline itu.

Pembuahan
Dalam proses pembuahan, spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang micropyle yang terdapat pada chorion. Tiap spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur. Akan tetapi karena ruang tempat terjadinya pembuahan yaitu pertemuan telur dengan spermatozoa pada ikan ovipar sangat besar, maka kesempatan spermatozoa itu untuk bertemu dengan telur sebenarnya sangat kecil.






Untuk mengatasi hal tersebut agar pembuahan berhasil, spermatozoa yang dikeluarkan jumlahnya sangat besar dibandingkan dengan jumlah telur yang akan dibuahi. Dalam kondisi yang optimum spermatozoa ikan yang baru dikeluarkan dari tubuh mempunyai kekuatan untuk bergerak dalam air selama 1 – 2 menit.



Berdasarkan kepada penelitian yang telah dilakukan oleh Hartman dan juga oleh Motalenti (Hoar, 1957), telur dan sperma yang baru dikeluarkan dari tubuh induk, mengeluarkan zat kimia yang berguna dalam proses pembuahan. Menurut kebanyakan literatur dari Amerika, zat yang dikeluarkan oleh telur dan sperma dinamakan Gamone. Gamone yang berasal dari telur adalah Gynamone I dan Gynamone II. Gamone yang berasal dari spermatozoa adalah Androgamone I dan Androgamone II. Gynamone I berfungsi untuk mempercepat pergerakan dan menarik sper­matozoa dari spesies yang sama secara chemotaksis. Gynamone II berfungsi untuk mengum­pulkan dan menahan spermatozoa pada permukaan telur. Fungsi Androgamone I ialah untuk menekan aktifitas spermatozoa ketika masih berada dalam saluran genital ikan jantan. Sedangkan Androgamone II berfungsi untuk membuat permukaan charion menjadi lembek sebagai lawan dari fungsi Gynamone II.

Secara relatif lapisan telur yang sudah dalam air adalah keras dan tidak dapat ditembus oleh spermatozoa kecuali melalui micropyle yang bentuknya seperti corong. Lubang corong yang besar terletak di bagian luar dan lubang yang kecil di bagian dalam. Lubang itu demikian kecilnya sehingga tidak mungkin dapat dilalui oleh sperma lebih dari satu dalam satu waktu. Ketika spermatozoa masuk ke dalam lubang corong, itu merupakan sumbat bagi yang lainnya dan setelah kepala spermatozoa itu masuk, bagian ekornya terlepas. Dengan demikian pembuahan pada ikan umumnya monosperma dimana kalau sudah masuk satu spermatozoa akan cepat terjadi perubahan pada bagian micropyle.

Kalaupun terjadi pembuahan polyspermi, hanya satu spermatozoa yang melebur bersatu dengan inti telur. Sedangkan yang lainnya dihisap oleh telur sebagai bahan makanannya. Sesaat setelah terjadi pembuahan, isi telur agak sedikit mengkerut karena pecahnya rongga alveoli yang terdapat di dalam telur. Dengan kejadian tersebut rongga perivitelline lebih membesar sehingga telur yang telah dibuahi dapat mengadakan pergerakan rotasi selama dalam perkembangannya sampai menetas.

 
;